Bata ringan LEBIH TAHAN Gempa, Badai dan Api

gempa-1

Indonesia terdiri dari 3 lempeng bumi yang bergerak aktif, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik, sering menimbulkan gempa tektonik akibat pergeseran diantara lempeng tersebut, dan juga gempa jenis vulkanik karena kita juga banyak memiliki gunung berapi yang masih aktif. Jadi karena kita berada di daerah yang sering terjadi gempa bumi maka kekuatan bangunan terhadap gempa bumi menjadi sangat penting.

Untuk memberikan ketahanan yang lebih baik dari sebuah bangunan terhadap guncangan gempa adalah apabila massa atau beban struktur bangunan tersebut lebih ringan. Massa atau beban sebuah struktur bangunan dipengaruhi oleh material yang digunakan, baik itu rumah maupun gedung yang dimulai dari struktur pondasi. Oleh karena itu pemilihan bahan bangunan harus yang tepat yaitu yang memiliki bobot lebih ringan, tetapi mempunyai kekuatan yang tinggi.

Sekarang ini sudah tersedia material bangunan yang mempunyai karakteristik kuat namun berbobot ringan sehingga mampu mengurangi massa bangunan atau beban struktur bangunan yang dapat memberikan ketahanan terhadap guncangan gempa lebih baik yaitu bata ringan, panel lantai, rangka atap baja ringan, kusen aluminium dan UPVC.

Bata ringan adalah material dinding atau tembok yang dihasilkan dengan teknologi Autoclved Aerated Concrete, mempunyai kuat tekan tinggi namun memiliki bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan bata merah konvensional dan bata CLC sehingga massa bangunan menjadi lebih ringan, maka memberikan ketahanan terhadap guncangan gempa dan badai dengan lebih baik.

Bata ringan AAC juga tidak mudah terbakar dengan tingkat UL api sekitar 4 jam dan tidak melepaskan gas beracun. Bata ringan dengan teknologi AAC sangat efektif untuk daerah-daerah yang sering dilanda gempa bumi, badai dan untuk tempat pemukiman padat yang lebih rawan kebakaran.